Ada sesuatu yang menarik dari suara radio.
Kita mungkin tidak selalu bisa menjelaskan secara teknis mengapa sebuah stasiun radio terdengar berbeda dari stasiun lainnya. Namun ketika mendengarnya, kita bisa langsung merasakan bahwa ada karakter tertentu.
Radio AM terdengar berbeda dengan FM.
FM terdengar berbeda dengan radio online.
Bahkan dua stasiun FM yang sama-sama memutar lagu dengan kualitas bagus pun bisa memiliki karakter suara yang berbeda.
Perubahan tersebut bukan hanya karena perkembangan teknologi pemancar. Cara musik diproduksi, suara penyiar diproses, sinyal dikirimkan, hingga perangkat yang digunakan pendengar semuanya ikut menentukan.
Lalu, seperti apa sebenarnya perbedaan AM, FM, dan radio online?
1. AM: suara yang sederhana, tetapi memiliki karakter kuat
AM atau Amplitude Modulation merupakan salah satu teknologi penyiaran radio yang telah digunakan sejak masa awal perkembangan radio.
Karakter suara AM sangat berbeda dengan FM.
Untuk siaran suara, AM cenderung terasa lebih sempit pada frekuensi audio yang dapat ditransmisikan. Detail frekuensi tinggi tidak menjadi bagian yang dominan seperti pada siaran FM.
Akibatnya, musik yang diputar melalui AM dapat terdengar lebih sederhana.
Cymbal tidak terlalu berkilau.
Detail gitar atau instrumen tertentu tidak selalu muncul dengan jelas.
Namun suara manusia justru dapat terasa cukup fokus.
Karakter inilah yang membuat radio AM sangat identik dengan siaran berita, informasi, olahraga, percakapan, dan berbagai program berbasis suara.
Bukan berarti AM tidak bisa digunakan untuk musik.
Dahulu musik juga banyak hadir melalui AM.
Hanya saja, pendengar menerima musik tersebut dengan karakter yang berbeda.
Dan justru karakter itulah yang sekarang sering dianggap sebagai warna suara radio klasik.
AM juga memiliki suara "udara"
Ada satu hal lain yang membuat AM terasa berbeda.
Ketika sinyal tidak terlalu kuat, pendengar dapat mendengar noise, desis, atau gangguan lainnya.
Pada kondisi tertentu, suara stasiun dapat naik-turun atau terganggu oleh kondisi lingkungan.
Bagi pendengar modern, hal tersebut mungkin dianggap sebagai masalah.
Namun bagi pendengar radio zaman dulu, suara seperti itu merupakan bagian dari pengalaman mencari stasiun.
Memutar tuning.
Mendengar desis.
Menemukan suara penyiar.
Kemudian mencoba mendapatkan posisi sinyal terbaik.
Radio benar-benar terasa seperti sesuatu yang sedang ditangkap dari udara.
2. FM: musik mulai terdengar lebih luas
FM atau Frequency Modulation membawa pengalaman yang berbeda.
Untuk pendengar musik, FM memberikan kualitas yang lebih sesuai untuk menikmati berbagai jenis instrumen.
Stereo juga menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman FM.
Ketika mendengarkan lagu melalui radio FM stereo, suara dapat terasa lebih lebar.
Gitar dapat terasa berada di sisi tertentu.
Keyboard dan instrumen lainnya mempunyai posisi tersendiri.
Vokal dapat berada di tengah.
Hasilnya membuat musik terasa lebih hidup dibandingkan karakter siaran AM yang lebih terbatas.
Tidak mengherankan jika FM kemudian menjadi sangat populer sebagai media utama untuk radio musik.
FM memiliki "suara stasiun"
Menariknya, kualitas FM tidak hanya ditentukan oleh pemancar.
Stasiun radio dapat mengolah audio sebelum dikirimkan ke pemancar.
Musik dan suara penyiar dapat melewati equalizer, compressor, limiter, dan berbagai perangkat pengolah audio lainnya.
Di sinilah identitas suara sebuah stasiun mulai terbentuk.
Ada radio yang terdengar lembut.
Ada yang bass-nya terasa kuat.
Ada yang vokalnya sangat menonjol.
Ada yang musiknya terasa terang dan tajam.
Ada pula stasiun yang sengaja membuat suara siaran lebih padat dan keras.
Dengan demikian, pendengar sebenarnya tidak hanya mendengarkan lagu.
Mereka juga mendengarkan karakter audio dari stasiun tersebut.
3. Radio online: suara tidak lagi bergantung pada gelombang udara
Radio online mengubah konsep tersebut secara mendasar.
Pada radio AM dan FM, suara dikirim melalui gelombang radio dari pemancar menuju penerima.
Pada radio online, suara diubah menjadi data digital dan dikirim melalui jaringan internet.
Jalur sederhananya dapat dibayangkan seperti ini:
Studio → Encoder → Server Streaming → Internet → Perangkat Pendengar
Pendengar tidak perlu lagi mencari frekuensi.
Tidak perlu memutar antena.
Tidak perlu mencari posisi terbaik untuk mendapatkan sinyal.
Cukup memilih stasiun dan menekan tombol play.
Radio dari Semarang dapat didengarkan dari Jakarta.
Radio dari Jakarta dapat didengarkan dari Papua.
Bahkan stasiun dari negara lain dapat terdengar dengan mudah selama tersedia koneksi internet.
Inilah salah satu perubahan terbesar dalam sejarah radio.
4. Tetapi radio online bukan berarti otomatis lebih bagus
Secara teknologi, radio online mempunyai banyak kelebihan.
Namun kualitas suaranya sangat bergantung pada bagaimana streaming tersebut diproduksi.
Ada beberapa faktor penting:
kualitas sumber audio;
bitrate;
codec;
sample rate;
proses audio processing;
kualitas encoder;
koneksi internet;
dan perangkat pendengar.
Sebuah streaming dengan bitrate rendah dapat terdengar kurang detail.
Sebaliknya, streaming dengan kualitas tinggi dapat menghasilkan suara yang sangat bersih.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan.
Streaming hanya mengirimkan apa yang diberikan kepadanya.
Jika suara dari studio sudah terlalu banyak diproses, streaming tidak akan mengembalikan karakter aslinya.
Jika sumber audionya buruk, kualitas streaming yang tinggi juga tidak otomatis membuatnya menjadi bagus.
5. Tiga teknologi, tiga karakter
Kalau disederhanakan, karakter ketiganya dapat digambarkan seperti ini:
| Teknologi | Karakter umum | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|
| AM | Lebih sempit, fokus pada suara, memiliki noise khas | Jangkauan dan karakter siaran klasik | Detail musik terbatas, mudah terdengar gangguan |
| FM | Lebih lebar, stereo, cocok untuk musik | Suara musik lebih jelas dan luas | Tetap bergantung pada kualitas penerimaan sinyal |
| Radio Online | Bersih, stabil, sangat fleksibel | Bisa didengar hampir di mana saja dan dari berbagai perangkat | Bergantung pada internet, codec, bitrate, dan kualitas streaming |
Tentu saja, tabel tersebut merupakan gambaran umum.
Kualitas nyata sebuah stasiun dapat berbeda-beda tergantung sistem yang digunakan.
6. AM punya nostalgia, FM punya warna musik, streaming punya kebebasan
Jika ketiganya dibandingkan dari sisi pengalaman, masing-masing memiliki keunikan.
AM memiliki nostalgia.
Suara penyiar, desis, noise, dan karakter sempitnya dapat membawa kita kembali ke masa ketika radio merupakan salah satu sumber informasi utama.
FM memiliki warna musik.
Stereo, rentang suara yang lebih luas, dan pengolahan audio membuatnya sangat cocok untuk radio musik dan hiburan.
Sedangkan radio online memiliki kebebasan.
Tidak lagi dibatasi oleh jangkauan pemancar secara geografis. Selama stasiun tersedia secara online dan pendengar mempunyai akses internet, radio tersebut dapat didengarkan dari berbagai tempat.
7. Mengapa radio lama terasa berbeda?
Jawabannya ternyata bukan hanya karena radio itu "lama".
Perangkat yang digunakan juga berbeda.
Dahulu orang mendengarkan radio melalui radio transistor, tape deck, perangkat hi-fi, atau speaker sederhana.
Sekarang radio dapat didengarkan melalui smartphone, komputer, headphone, speaker Bluetooth, sound system mobil, hingga smart speaker.
Artinya, suara yang sampai ke telinga pendengar juga dipengaruhi perangkat tersebut.
Selain itu, produksi musik juga mengalami perubahan.
Rekaman lama mempunyai karakter tersendiri.
Rekaman modern memiliki tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.
Kemudian semuanya bertemu di dalam proses audio processing stasiun radio.
Hasil akhirnya adalah sebuah warna suara.
8. Ketika lagu yang sama terdengar berbeda
Bayangkan satu lagu yang sama.
Versi pertama didengarkan melalui radio AM.
Versi kedua melalui FM.
Versi ketiga melalui streaming online.
Lagunya tetap sama.
Penyanyinya tetap sama.
Aransemen tetap sama.
Tetapi pengalaman mendengarkannya bisa berbeda.
Pada AM, lagu mungkin terasa lebih fokus dan memiliki karakter klasik.
Pada FM, detail musik dan stereo dapat terasa lebih luas.
Pada streaming, suara dapat terdengar sangat bersih dan detail—tergantung kualitas streaming yang digunakan.
Jadi, yang berubah bukan hanya lagunya.
Media yang membawa lagu tersebut juga ikut memberikan warna.
9. Radio online sebenarnya bisa meniru suara radio lama
Hal yang menarik adalah teknologi digital tidak harus selalu menghasilkan suara yang modern.
Radio online dapat dibuat dengan karakter suara yang sengaja menyerupai radio lama.
Misalnya dengan menggunakan:
equalizer dengan karakter tertentu;
compressor;
limiter;
saturasi;
simulasi tape;
noise;
atau pengolahan suara yang menyerupai karakter AM maupun FM klasik.
Dengan teknologi digital, sebuah radio online bahkan dapat memiliki suara retro.
Jadi kita bisa memiliki sesuatu yang cukup unik:
teknologi pengiriman modern dengan karakter suara lama.
10. Apakah radio online akan menggantikan AM dan FM?
Belum tentu.
Ketiganya mempunyai fungsi dan pengalaman yang berbeda.
AM tetap memiliki sejarah dan karakter tersendiri.
FM masih sangat kuat untuk radio musik dan siaran lokal.
Radio online menawarkan jangkauan dan fleksibilitas yang jauh lebih besar.
Bahkan saat ini ketiganya dapat berjalan berdampingan.
Sebuah stasiun radio dapat memancarkan siaran melalui FM sekaligus menyediakan streaming online.
Pendengar yang berada di sekitar pemancar dapat menggunakan radio biasa.
Pendengar yang berada jauh dari wilayah layanan dapat menggunakan internet.
Dengan demikian, teknologi baru tidak selalu harus menghapus teknologi lama.
Kadang-kadang teknologi baru justru menjadi perpanjangan dari teknologi yang sudah ada.
Radio berubah, tetapi warna suaranya tetap penting
Dari AM menuju FM, kemudian menuju radio online, perjalanan teknologi radio sebenarnya adalah perjalanan menuju cara yang semakin fleksibel dalam mengirimkan suara.
AM memberikan karakter klasik.
FM memberikan kualitas dan ruang suara yang lebih luas.
Streaming memberikan kebebasan geografis dan kemudahan akses.
Tetapi di balik semua itu, ada satu hal yang tidak berubah.
Pendengar tetap mencari suara yang mempunyai karakter.
Sebab radio yang hanya terdengar keras belum tentu mudah diingat.
Radio yang sangat jernih belum tentu mempunyai identitas.
Dan radio dengan teknologi paling modern belum tentu menjadi radio yang paling berkesan.
Pada akhirnya, pendengar mungkin tidak akan mengingat berapa kilobit bitrate streaming sebuah stasiun.
Mereka lebih mungkin mengingat suara penyiar, jingle, lagu yang pernah diputar, dan perasaan ketika mendengarkannya.
Karena itulah warna suara radio tetap penting, baik suara tersebut datang dari gelombang AM, siaran FM, maupun paket data yang melintas melalui internet.
Teknologinya berubah.
Cara mengirimkan suara berubah.
Perangkat pendengarnya berubah.
Tetapi satu hal tetap sama:
radio selalu berusaha membuat sebuah suara terasa dekat dengan pendengarnya.




