Bagi masyarakat urban Jakarta, radio bukan sekadar penghalau stres di tengah kemacetan horor ibu kota. Ia adalah teman setia, pemutar lagu hit, hingga pemberi informasi lalu lintas paling aktual. Namun, lanskap penyiaran audio di Jakarta sedang mengalami pergeseran masif. Seiring dengan derasnya arus digitalisasi dan restrukturisasi bisnis media, beberapa frekuensi legendaris yang dulu berisik kini berubah menjadi desis hening (white space).
Gelombang radio analog di Jakarta perlahan mulai berkurang setelah beberapa stasiun radio memutuskan untuk mematikan pemancar analog mereka atau dialihkan kepemilikannya. Apa saja frekuensi radio yang kini kosong atau mengalami perubahan besar di Jakarta? Mari kita ulas perjalanannya.
1. 97.5 FM: Hilangnya Motion Radio dari Udara Analog Jakarta
Bagi pencinta musik urban modern, hip-hop, dan R&B, frekuensi 97.5 FM dulunya adalah tujuan utama di tape mobil atau ponsel mereka. Frekuensi ini selama bertahun-tahun diisi oleh Motion Radio Jakarta di bawah naungan Kompas Gramedia Radio Network (KG Media).Kondisi Terkini: Pemancar analog Motion Radio Jakarta di frekuensi 97.5 FM resmi mati dan jalur udaranya kosong. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi korporasi media terhadap penataan penyiaran publik analog.
Ke Mana Mereka?: Meskipun gelombang udaranya telah kosong, brand Motion Radio tidak sepenuhnya hilang. Mereka memilih bermigrasi total ke platform digital. Pendengar setianya kini hanya bisa menikmati siaran lewat Live Streaming Website Resmi Motion Radio atau melalui aplikasi pemutar audio digital.
2. 101.8 FM: Pamitnya Bahana FM dari Jalur Udara Konvensional
Frekuensi 101.8 FM dulunya merupakan rumah bagi Bahana FM, salah satu stasiun radio yang sangat akrab di telinga pekerja kantoran dan kaum dewasa muda di Jakarta dengan format Adult Contemporary.
Kondisi Terkini: Ketatnya persaingan monetisasi iklan konvensional dan tingginya biaya operasional pemancar analog di Jakarta memaksa stasiun ini menyudahi masa siarannya di jalur analog FM. Jalur 101.8 FM kini terpantau kosong atau hening, meninggalkan basis pendengar setianya di Jabodetabek yang kini harus beralih ke format penyiaran digital.
3. 91.6 FM: Berakhirnya Era Indika FM ("Sounds of Jakarta")
Berbeda dengan dua frekuensi di atas yang sepenuhnya kosong, jalur 91.6 FM mengalami perubahan identitas secara total. Selama lebih dari dua dekade sejak tahun 2000, frekuensi ini dikuasai oleh Indika FM, radio yang sangat populer dengan segmentasi pekerja muda dan musik hit-nya. [1, 2]
Kondisi Terkini: Indika FM telah resmi berhenti mengudara. Stasiun ini diakuisisi oleh korporasi media lain dan resmi berganti nama menjadi MD FM. Perubahan ini menandai berakhirnya sejarah panjang nama besar Indika FM di udara Jakarta, bertransformasi menjadi entitas baru dengan manajemen dan konsep yang berbeda.
Bagaimana dengan Stasiun Anak Muda Lain Seperti OZ Radio?
Di tengah gugurnya beberapa stasiun radio di atas, OZ Radio Jakarta (90.8 FM) terpantau menjadi salah satu yang masih aktif bertahan di jalur analog. Stasiun yang akrab dengan sapaan "OZzers" ini tetap mengudara secara reguler menemani anak muda Jakarta lewat frekuensi 90.8 FM, sekaligus memperkuat eksistensinya secara paralel melalui aplikasi streaming online.
Siapa yang Akan Mengisi Spektrum Udara yang Kosong?
Secara regulasi di Indonesia, kekosongan frekuensi FM analog di Jakarta tidak bisa diisi secara sembarangan oleh stasiun radio baru. Berdasarkan aturan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), spektrum radio adalah sumber daya alam terbatas milik negara yang distribusinya diatur ketat undang-undang. [1, 2]
Semua frekuensi yang kosong secara otomatis kembali ke tangan negara. Jalur-jalur ini akan tetap menjadi white space sampai pemerintah membuka kembali peluang izin siar baru atau menata ulang alokasi frekuensi untuk kebutuhan penyiaran masa depan—termasuk persiapan migrasi ke teknologi radio digital.
Fenomena kosongnya frekuensi-frekuensi legendaris ini menjadi bukti nyata bahwa industri media di Jakarta sedang bertransformasi. Radio konvensional tidak sepenuhnya mati, melainkan berpindah tempat; mereka bermigrasi ke aplikasi penyiaran, podcast, dan platform internet untuk menemui pendengarnya dengan cara yang baru.




